Perjuangan Dr. Hanif, Family Man yang Hidupkan Pedagogi Kritis
UMCPRESS.ID - Jumat, 30 Januari 2026, menjadi tanggal yang akan lama dikenang oleh Dr. Hanif Nurcholish Adiantika. Di ruang akademik Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jalan Setiabudi, kerja panjang, doa, dan kesabaran yang ia rajut bertahun-tahun akhirnya bermuara pada satu pengakuan ilmiah: dinyatakan lulus dalam ujian disertasi doktoral.
Hari itu, Hanif tidak sekadar mempertahankan sebuah karya ilmiah. Ia mempertanggungjawabkan sebuah keyakinan tentang pendidikan yang membebaskan. Disertasinya yang berjudul “The Implementation of Critical Pedagogy in Teaching Critical Literacy in a Tertiary EFL Classroom in Indonesia” lahir dari kegelisahan seorang pendidik terhadap praktik pembelajaran bahasa Inggris yang kerap berhenti pada aspek teknis, tetapi luput menyentuh kesadaran kritis mahasiswa.

Ujian disertasi tersebut dipimpin oleh Promotor Prof. Emi Emilia, M.Ed., Ph.D., dengan Co-Promotor Prof. Gin Gin Gustine, M.Pd., Ph.D. Proses akademik ini turut melibatkan penguji internal Prof. Bachrudin Musthafa, Ph.D., dan Dr. Sudarsono MI, M.A., serta penguji eksternal Prof. Nina Nurmila, Ph.D. Dialog akademik yang terbangun berlangsung intens, kritis, sekaligus penuh penghargaan terhadap kerja ilmiah yang disajikan.
Bagi Hanif, tanggal 30 Januari bukan sekadar akhir dari studi S3, melainkan penanda perjalanan hidup. Ia lahir dari keluarga guru yang menanamkan nilai keikhlasan dan keteguhan dalam mendidik. Lingkungan tersebut membentuknya menjadi pendidik yang tangguh, terbiasa memaknai ilmu bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai laku hidup.
Dalam keseharian, Hanif dikenal sebagai sosok family man yang menjadikan keluarga sebagai pusat kekuatan. Gelar doktor yang diraihnya ia persembahkan untuk kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selama ini menjadi supporting system utama, termasuk putra tercintanya yang menjadi sumber semangat di setiap langkah.

Perjalanan studi doktoral ini bukan tanpa tantangan. Ada fase lelah, ragu, dan sunyi yang harus dilalui. Namun, proses tersebut justru menempa kedewasaan Hanif dalam memaknai ilmu dan kehidupan. Studi S3 mengajarkannya untuk lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih bijak dalam memandang perbedaan.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC). Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Imam, menyebut capaian ini sebagai buah dari ketekunan dan komitmen seorang pendidik terhadap nilai-nilai keilmuan dan kemanusiaan. Menurutnya, gelar doktor yang diraih Hanif membawa tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Terlebih Hanif sudah sangat dinantikan di Tim Doskar (Dosen dan Karyawan) UMC usai kelulusan doktoralnya.
Dekan FKIP UMC, Dr. Hj. Fikriyah, M.A., menilai momen ini sebagai kebanggaan bersama sivitas akademika. Hal senada disampaikan Ketua Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMC, Dr. Ikariya Sugesti, S.S., M.Pd., serta Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UMC, Dila Charisma, M.Pd., yang melihat keberhasilan tersebut sebagai inspirasi bagi dosen dan mahasiswa.
Bagi Hanif, 30 Januari bukan garis akhir. Ia adalah titik tolak baru. Sebuah janji sunyi untuk terus menghidupkan pendidikan yang kritis, manusiawi, dan berpihak pada pembebasan. Dari ruang ujian di Setiabudi, perjalanan seorang pendidik justru dimulai kembali dengan kesadaran yang lebih utuh tentang ilmu, keluarga, dan kehidupan.