Dari Istiqlal, Mahasiswa FKIP UMC Kirim Doa untuk Gaza dan Dunia Islam
UMCPRESS.ID - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Cirebon (FKIP UMC) mengisi rangkaian 10 malam terakhir Ramadan dengan melakukan kunjungan spiritual ke Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Kamis (12/03). Kegiatan tersebut diikuti oleh dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan nilai keislaman sekaligus implementasi mata kuliah Al-Islam Kemuhammadiyahan dalam kehidupan nyata.
Masjid Istiqlal
Kunjungan tersebut melibatkan puluhan mahasiswa FKIP UMC yang didampingi langsung oleh pimpinan universitas dan fakultas. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan FKIP UMC Norma Bastian, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMC Dila Charishma, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMC Ikariyah Sugesti, serta Ketua Program Studi PGSD UMC Dr. Widia Nur Jannah, M.Pd.

Dekan FKIP UMC, Dr. Hj. Fikriyah, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda kunjungan religi, tetapi juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menanamkan nilai spiritual, empati sosial, dan wawasan kebangsaan kepada mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa calon pendidik perlu diajak keluar dari ruang kelas agar mampu memahami kehidupan sosial dan spiritual masyarakat secara lebih luas. Masjid Istiqlal, kata dia, merupakan salah satu pusat pertemuan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari berbagai negara.
“Mahasiswa perlu diajak melihat langsung bagaimana umat Islam berkumpul, beribadah, dan saling menguatkan di tempat yang menjadi simbol persatuan umat seperti Masjid Istiqlal. Ini adalah bagian dari implementasi nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan,” ujar Fikriyah.
Ia menambahkan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk menanamkan nilai empati dan solidaritas global kepada mahasiswa. Dalam kesempatan tersebut, Fikriyah juga mengajak seluruh mahasiswa untuk memanjatkan doa bagi umat Islam di berbagai belahan dunia yang tengah menghadapi konflik dan situasi kemanusiaan yang sulit.
Doa bersama dipanjatkan untuk masyarakat Muslim di Gaza, Palestina, yang hingga kini masih menghadapi situasi konflik berkepanjangan. Selain itu, doa juga ditujukan bagi warga Muslim di Iran yang saat ini tengah berada dalam kondisi yang tidak stabil, serta masyarakat di Irak, Libya, dan Yaman yang masih dilanda konflik.

Tidak hanya itu, doa juga dipanjatkan bagi umat Islam di sejumlah negara Afrika seperti Sudan dan wilayah lain yang mengalami krisis kemanusiaan akibat perang dan ketidakstabilan politik. Menurut Fikriyah, kepedulian terhadap sesama umat manusia harus menjadi bagian dari karakter mahasiswa, khususnya mereka yang kelak akan menjadi pendidik.
“Calon guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga nilai kemanusiaan. Empati terhadap penderitaan orang lain harus menjadi bagian dari kepribadian seorang pendidik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Fikriyah juga mengajak mahasiswa untuk mendoakan seluruh rakyat Indonesia agar diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak pasti.
Ia menekankan bahwa ada beberapa langkah yang dapat dilakukan calon pendidik dalam menyikapi situasi dunia saat ini. Pertama, memperkuat literasi dan pemahaman global agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Kedua, menumbuhkan empati sosial melalui doa, solidaritas, dan kepedulian kemanusiaan. Ketiga, membangun karakter moderat dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat, menjadikan pendidikan sebagai sarana menanamkan nilai perdamaian kepada generasi muda.

Fikriyah juga mengingatkan bahwa Ramadan yang sebentar lagi akan meninggalkan umat Islam harus dimanfaatkan sebagai momentum refleksi diri. Menurutnya, ibadah di penghujung Ramadan tidak hanya tentang meningkatkan amal, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Kita tidak tahu apakah masih akan bertemu Ramadan tahun depan. Karena itu, malam-malam terakhir ini harus menjadi momentum memperbaiki diri dan meneguhkan niat untuk terus menebar kebaikan,” pungkasnya.