Dr. Endah Kardiyati, Inspirator Gerakan Bank Sampah
Dr. Endah Kardiyati, Direktur Bank Sampah Aisyiyah Cirebon sekaligus dosen UMC, mendapat apresiasi luas karena dedikasinya mengubah sampah menjadi berkah melalui gerakan berkelanjutan yang inspiratif.

UMCPRESS.ID - Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks dan menekan ruang hidup masyarakat, hadir sosok inspiratif yang mengabdikan diri untuk solusi berkelanjutan. Dr. Endah Nurhawaeny Kardiyati, SE., M.Si., Akt., CA, dosen Program Studi D3 Humas FISIP Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), tampil sebagai motor penggerak perubahan melalui kiprahnya sebagai Direktur Bank Sampah Aisyiyah Kabupaten Cirebon.
Di tangan perempuan yang dikenal cerdas, rendah hati, dan visioner ini, sampah bukan lagi sekadar masalah, melainkan sumber daya yang dapat diubah menjadi nilai ekonomi, sosial, sekaligus solusi lingkungan.
Gerakan yang dipimpinnya bukan sekadar tentang memilah dan mengolah sampah. Lebih dari itu, ia menjadikannya sebagai gerakan literasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan budaya peduli sesama. Bank Sampah Aisyiyah yang ia pimpin mengajarkan masyarakat untuk konsisten dengan prinsip 3R: Reduce, Reuse, Recycle, sebagaimana ditekankan dalam konsep pengelolaan sampah modern.
Melalui langkah nyata ini, masyarakat tidak hanya diajak menjaga lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengolahan sampah.
Dedikasi Dr. Endah mendapat apresiasi luas. Wali Kota Cirebon dan Bupati Cirebon kompak menyatakan dukungannya, menyebut kiprahnya sebagai teladan nyata dalam mengatasi persoalan lingkungan.
Dukungan juga mengalir dari unsur Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menilai kiprah Bank Sampah Aisyiyah sejalan dengan gerakan dakwah berkemajuan. Apresiasi tersebut bukan tanpa alasan, sebab gerakan ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga bumi dari ancaman sampah plastik maupun limbah rumah tangga yang kerap mencemari tanah, air, dan udara.
Sebagai akademisi, Dr. Endah menempatkan pengabdiannya dalam kerangka tridarma perguruan tinggi. Ia tak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga mengajak mahasiswa terlibat langsung dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Baginya, teori harus menyatu dengan praktik, dan ilmu harus berdaya guna untuk kehidupan nyata.
Karena itu, D3 Humas FISIP UMC yang menjadi rumah akademiknya turut tumbuh sebagai pusat pembelajaran yang responsif terhadap isu lingkungan.
Lebih jauh, Bank Sampah Aisyiyah yang ia kelola menjadi ruang kolaborasi. Masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil bersatu dalam satu visi: menjadikan sampah sebagai berkah, bukan musibah.
Dalam berbagai kesempatan, Dr. Endah menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Dengan begitu, gerakan ini mampu bertahan sekaligus berkembang menjadi model pemberdayaan lingkungan berbasis komunitas.
Hasilnya kini nyata. Berbagai kelompok masyarakat di Cirebon mulai terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Limbah organik diolah menjadi kompos, plastik didaur ulang, dan barang-barang tak terpakai kembali bernilai.
Inovasi sederhana ini menekan volume sampah yang berakhir di TPA sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan pendekatan edukatif, Dr. Endah berhasil membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari peluang baru.
Kiprah Dr. Endah juga merepresentasikan wajah baru kepemimpinan perempuan dalam isu lingkungan. Ia menunjukkan bahwa kepedulian, intelektualitas, dan keteladanan dapat menyatu dalam sebuah gerakan yang mengakar. Tak berlebihan jika kemudian berbagai pihak menilai dirinya sebagai inspirator gerakan lingkungan di Cirebon.
Di tengah berbagai tantangan pengelolaan sampah yang kerap terbentur minimnya kesadaran masyarakat, terbatasnya teknologi, hingga kurangnya dukungan infrastruktur, Dr. Endah tetap konsisten menyalakan semangat perubahan.
Ia percaya, gerakan kecil yang dilakukan dengan hati akan melahirkan dampak besar bagi masa depan bumi.