Johan MT, Jembatan Ilmu dan Kehidupan Desa

Johan MT, dosen UMC inspiratif, mendampingi mahasiswa internasional belajar kopi, budaya, dan kehidupan desa di Kuningan, menegaskan pendidikan sejati adalah berbagi dengan masyarakat.

Johan MT, Jembatan Ilmu dan Kehidupan Desa

UMCPRESS.ID - Nama Johan MT semakin melekat sebagai sosok dosen inspiratif yang tak hanya piawai di ruang akademik, tetapi juga mengakar di tengah masyarakat.

Wakil Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) ini kembali menunjukkan dedikasinya dengan mendampingi mahasiswa internasional UMC dalam short course bertajuk “From Beans to Waves: A Journey Through Cirebon’s Coffee, Kingdom Heritage, and Northern Java’s Seafood” yang berlangsung di Desa Gunung Manik dan Desa Cikondang, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Ahad hingga Selasa, 24–26 Agustus 2027.

Kegiatan tersebut menghadirkan mahasiswa asing dari berbagai negara, antara lain India, Rusia, Malaysia, Bangladesh, Thailand, Kamboja, hingga Sudan. Mereka tampak antusias menyusuri setiap kegiatan yang disuguhkan, mulai dari melihat langsung perkebunan kopi hingga menyaksikan proses pengolahan biji kopi menjadi minuman siap saji.

Lebih dari itu, para mahasiswa juga diajak memahami praktik ekonomi sirkular yang diterapkan masyarakat desa, yang menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kehidupan pedesaan.

Tidak hanya belajar, mahasiswa asing ini juga merasakan kehidupan nyata masyarakat desa. Mereka berbaur dengan warga, menikmati suasana alam yang masih asri, mencicipi makanan khas pedesaan, hingga ikut olahraga bersama para pelajar dan pemuda setempat.

Bagi mereka, pengalaman ini tidak sekadar pembelajaran akademik, tetapi juga perjalanan budaya yang berkesan.

Salah satu mahasiswa asal Thailand mengaku kagum dengan keramahan warga serta kesederhanaan kehidupan desa yang sarat nilai kebersamaan. “Saya merasa diterima dengan sangat hangat, ini pengalaman yang sulit ditemukan di negara lain,” ucapnya.

Sementara itu, mahasiswa asal Rusia menyebut kunjungan ke Desa Gunung Manik sebagai pengalaman luar biasa.

“Belajar tentang kopi, budaya, dan hidup bersama masyarakat memberi kami pemahaman yang tidak bisa didapat dari buku,” katanya.

Johan yang mendampingi sejak awal kegiatan menegaskan bahwa program ini bukan sekadar wisata edukasi, melainkan juga bentuk nyata pengabdian kampus kepada masyarakat. Ia ingin memastikan mahasiswa internasional tidak hanya melihat sisi akademis, tetapi juga memahami kearifan lokal serta potensi desa.

“Mahasiswa asing belajar banyak hal dari masyarakat, dan masyarakat pun mendapat manfaat dari keterlibatan mereka. Ini adalah simbiosis yang indah,” tuturnya.

Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Iman, yang turut hadir, menilai inisiatif ini sejalan dengan visi UMC untuk mengembangkan kampus yang berdaya saing global sekaligus membumi.

“Kegiatan ini adalah langkah strategis dalam internasionalisasi kampus. Tetapi lebih dari itu, kita ingin mahasiswa asing mengenal nilai-nilai lokal yang kaya makna, sehingga tercipta jembatan budaya antarbangsa,” katanya.

Tidak hanya mahasiswa, warga desa pun tampak senang dengan kegiatan tersebut. Kehadiran tamu dari mancanegara memberi warna tersendiri bagi kehidupan sehari-hari mereka.

Anak-anak sekolah bersemangat saat berolahraga bersama mahasiswa asing, sementara para ibu rumah tangga bangga menyajikan makanan khas daerah kepada para tamu. Kehangatan inilah yang membuat interaksi terasa begitu hidup.

Bagi Johan, kegiatan seperti ini adalah panggilan jiwa. Sebagai pencinta alam, ia meyakini bahwa pembelajaran terbaik seringkali ditemukan di luar ruang kelas. Baginya, mendampingi mahasiswa asing di tengah masyarakat desa adalah wujud nyata dari dedikasi sebagai pendidik sekaligus bagian dari pengabdian kepada bangsa.

“Saya percaya ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk berbagi. Pendidikan sejati adalah ketika ilmu menyatu dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya penuh keyakinan.

Johan sekali lagi menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di kampus. Dari kopi, alam pedesaan, hingga interaksi antarbudaya, semua menjadi bagian dari proses belajar yang utuh.