Bupati Imron, Dari Aktivis Hingga Politisi

Bupati Imron, Dari Aktivis Hingga Politisi
Bupati Cirebon, H. Imron Rosyadi (Foto: UMCPRESS.COM)

UMCPRESS.ID - H. Imron Rosyadi,  sejak 1 Oktober 2019 diamanahi sebagai Bupati Cirebon, memandang  jabatan itu membutuhkan penyatuan hati dan tangan untuk bekerja. 

Mengawali bincang santai, Bupati imron menceritakan terlebih dahulu bahwa dirinya mengenyam bangku SD Batembat Cirebon Barat, MTs MHS Ciwaringin Babakan dan MA Ciwaringin. 

Setalah itu, Imron muda melanjutkan studi strata S-1 Jurusan Perdata Agama Islam IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, S-2 Magister Manajemen STIE Jakarta (1988) dan  S-2 Magister Agama.

" Selama kuliah saya aktif melakukan advokasi, khususnya ikatan mahasiswa cirebon di Bandung, kemudian berkecimpung dengan berbagai kegiatan masyarakat. Bagi saya aktifis itu yah aktif di berbagai kegiatan," ucap Bupati Imron kepada umcpress.com, Selasa (18/5/2021).

Imron kemudian berkiprah di Bandung sebagai Wakil PPN KUA Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Penghulu,  Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung Barat (2010–2016). 

Imron mudah bergaul 

Saat masih menjabat di Kemenag Jawa Barat, Imron mudah bergaul dengan berbagai tokoh, LSM dan Partai. Berkat pembawaanya yang luwes, Imron ditawari oleh banyak partai untuk dicalonkan di legislative karena secara survey namanya memiliki elektabilitas yang tinggi, namun Imron saat itu menolak dengan halus.

Selanjutnya, Imron dipindahkan sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon (2016–2019). Di punghujung pensiun, Imron sebenarnya ingin mendedikasikan waktunya untuk mengurus Madrasah. 

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Imron dipinang oleh PDIP untuk mengikuti kontestasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati kala itu. Luar biasa, Imron Rosyadi sebagai Calon Wakil Bupati Cirebon yang berpasangan dengan  Sunjaya Purwadisastra  Calon Bupati Cirebon pun berhasil memenangkan hajatan pilkada.

Imron pun dilantik sebagai Wakil Bupati Cirebon periode 2019-2024 oleh Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil di Aula Barat Gedung Sate Bandung. Namun ada dinamika terjadi,  Imron pun ditunjuk sebagai Plt Bupati Cirebon dan saat ini menjadi Bupati Cirebon definitif.

Ketika ditanya, jadi Bupati ini nasib atau seperti apa? Imron memastikan setiap peristiwa ada hikmah dan apa yang Ia jalani adalah takdir dari Allah SWT yang sejatinya harus Ia lewati.

Perasaan sebagai bupati

Imron mengatakan bahwa menjadi pejabat itu mengurusi dari yang "sajadah hingga haram jadah" yang kesemuanya itu butuh pengkiprahan yang serius. 

Hal ini sangat penting, jika menilai posisi Bupati sebagai  pejabat dan bukan bekerja untuk rakyat. Khawatirnya, ketika menjadi pejabat, mereka merasa cita-citanya sudah tercapai. Mereka miskin inisiatif, malas melayani rakyat, dan menolak hak rakyat yang ingin terlibat dalam pembuatan kebijakan. 

Padahal, sebagai pejabat, meminjam istilah yang mencuat dalam pertunjukan seni di Omah Petruk asuhan Romo Sindhunata, Karang Klethak, Pakem, Yogyakarta, seharusnya tidak hanya melihat perikehidupan rakyat dengan mata terbuka, tetapi juga dengan mata hati. 

Mata terbuka justru harus ditutup karena semu dan sering menipu. Sebaliknya, mata hati ibarat Mbok Turah yang tidak pernah kehabisan rezeki meskipun dibagikan kepada sebanyak mungkin orang yang susah dan miskin.

Dalam pandangan Islam jabatan pemerintahan bukanlah lahan rezeki atau kunci pembuka simpanan kekayaan. Jabatan tersebut justru merupakan amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Kalau tidak dilaksanakan dengan sebenar-benarnya justru akan menjadi kehinaan dan sesalan di hari akhirat.

" Insha Allah dengan berbuat baik, amal kita juga bakal dapat baik," ucap Imron.

Imron mengaku banyak tantangan besar yang Ia temui. Namun kesemuanya itu bisa teratasi dengan mampu merangkul dan menggunakan pendekatan dialogis, semuanya bisa teratasi.

Imron memberikan kesempatan ke semua Kepala Dinas untuk melakukan lompatan, inovasi sehingga kemajuan dan prestasi pun bisa dirasakan. 

Dengan demikian, capaian dan  target bisa realisasi. Misalnya di bidang investasi Kabupaten Cirebon pada 2020 ini yakni sebesar Rp2,2 triliun, bisa mencapai sebesar 60 persen. Sektor terbesar investasi di Kabupaten Cirebon, yakni industri pengolahan sebesar Rp1,61 triliun dan urutan kedua diduduki oleh sektor jasa kegiatan kesehatan dan sosial, sebesar Rp156 miliar. 

Sedangkan, nilai investasi terkecil di Kabupaten Cirebon yakni, sektor pengadaan air sebesar Rp300 juta dan sektor real estate sebesar Rp1,4 miliar.

Imron mengatakan realisasi investasi pada tahun 2020 tampak menurun dibandingkan tahun sebelumnya lantaran adanya krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. 

Kabupaten Cirebon memiliki banyak keunggulan, di antaranya dilalui akses Tol Trans Jawa, jalur kereta api, jalur laut, dan upah minimum kota (UMK) jauh lebih rendah dibandingkan daerah Jawa Barat bagian barat.

Bagi Imron, menjadi pejabat atau tidak, masalah selalu datang silih berganti sehingga butuh usaha menyelesaikan masalah tanpa masalah dengan pendekatan yang tak perlu melukai orang lain. 

Ilmu dan Agama jadi hal penting

Lantas bagimana seyogyanya menyikapi problematika, Imron dengan tegas menyampaikan bahwa Ilmu dan Agama menjadi hal penting untuk bisa menelisik setiap masalah yang ada. 

Ilmu dan agama merupakan prestasi manusiawi, yang pada hakikatnya, muncul dari semangat yang sama, agar manusia dapat survive. Dengan kata lain, ilmu dan agama lahir karena kebutuhan, yaitu untuk menjawab berbagai macam tantangan yang selalu dihadapi manusia dalam eksistensinya.

Banyak orang pintar dan beragama, tapi sekedar ilmu, itulah nafsu yang mesti dikendalikan oleh ilmu dan agama.

"Ada orang yang jadi pejabat malah nambah pusing, kalau rumus dunia, maka kita harus lihat kebawah dan rumus akhirat kita harus lihat ke atas," tandas Imron.