Di Konferensi Internasional ICGSB 2026, TIM Dosen FEB UMC Paparkan Isu Strategis Transformasi Digital
UMCPRESS.ID - Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) tampil di panggung akademik internasional melalui sesi paralel The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026, Jumat (17/4). Dalam forum ini, para akademisi UMC mengangkat isu transformasi digital dari beragam perspektif, mulai dari kesehatan mental pekerja hingga pemberdayaan UMKM.
Konferensi yang diinisiasi oleh Philippine Women’s University (PWU) tersebut mengusung tema “Global Social & Business Transformation: Innovation, Sustainability, and Strategic Leadership in the Digital Era.”
Wakil Dekan FEB UMC, Dr Ali Jupri, menegaskan bahwa partisipasi UMC bukan sekadar kehadiran simbolis, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas riset sekaligus memperluas jejaring internasional. Menurutnya, forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan yang berdampak langsung pada penguatan kapasitas akademik dan kontribusi keilmuan UMC di tingkat global.
Dalam paparannya, Ali menyoroti fenomena cyberloafing dan technostress sebagai sisi lain dari dunia kerja digital. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa risiko distraksi serta tekanan psikologis akibat tuntutan adaptasi yang terus meningkat. Karena itu, diperlukan strategi manajemen yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental pekerja.
Sementara itu, Ketua Program Studi Manajemen FEB UMC, Puspa Dewi Yulianti M.M, menekankan pentingnya hilirisasi riset. Ia mengangkat isu pemberdayaan UMKM melalui distribusi pembiayaan yang inklusif serta transformasi digital. Menurutnya, UMKM sebagai tulang punggung ekonomi perlu didorong agar lebih adaptif dan kompetitif di pasar global, dengan riset yang dapat diimplementasikan secara nyata.
Isu perbankan turut menjadi perhatian melalui paparan Dr. Badawi, Wakil Rektor UMC. Ia mengkaji tantangan pemulihan kepuasan nasabah pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jawa Barat pasca-merger. Badawi menilai keberhasilan merger tidak hanya diukur dari efisiensi, tetapi juga kemampuan menjaga kepercayaan dan loyalitas nasabah melalui inovasi digital dan komunikasi yang transparan.
Di sisi lain, dosen FEB UMC, Muzayyanah, mengulas perubahan perilaku konsumen akibat penetrasi pembayaran digital seperti OVO di Kota Cirebon. Ia menyoroti kemudahan transaksi dan beragam promo yang mendorong peningkatan konsumsi impulsif, sehingga literasi keuangan menjadi faktor penting agar masyarakat tetap bijak dalam mengelola pengeluaran.
Keikutsertaan FEB UMC dalam ICGSB 2026 menegaskan komitmen institusi dalam menjawab tantangan era digital. Melalui integrasi riset akademik dan kebutuhan industri, UMC menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga berkontribusi dalam mendorong transformasi sosial dan bisnis di Indonesia.