Prof Haedar Nashir: Jauhkan Kepentingan Pribadi dari Amanah Kepemimpinan di Muhammadiyah

Prof Haedar Nashir: Jauhkan Kepentingan Pribadi dari Amanah Kepemimpinan di Muhammadiyah

UMCPRESS.ID - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa siapapun yang diamanahi tanggung jawab kepemimpinan di level manapun harus mampu menutup rapat segala kepentingan pribadi.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam pidatonya pada perayaan Milad ke-10 Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB) yang berlangsung Sabtu (16/5). Haedar menggarisbawahi bahwa tuntutan untuk menghilangkan kepentingan pribadi menjadi jauh lebih mutlak ketika seseorang memegang amanah kepemimpinan di dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Selain integritas pribadi, Prof Haedar juga menyoroti pentingnya kepekaan sosial bagi para pemimpin Muhammadiyah. Menurutnya, seorang pemimpin harus cerdas dalam memahami situasi dan kondisi yang beredar luas di media massa maupun media sosial. Ia mengingatkan agar tidak semua isu direspons secara reaktif, namun jangan pula semuanya didiamkan begitu saja.

Dalam konteks menjaga keseimbangan ini, Haedar mengutip sebuah pepatah Melayu yang sarat akan makna filosofis.

“Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung. Jadilah penyu di pantai, telur beratus namun tak bangga. Itu sifat tawassuth, sifat tengahan. Dalam hal tertentu kita harus bisa memberi warna,” ungkap Prof Haedar.

Lebih lanjut, Prof Haedar menjelaskan bahwa menjalankan amanah di Persyarikatan membutuhkan fondasi spiritualitas yang kokoh, yakni hidup ihsan dalam dimensi irfani. Mengingat Muhammadiyah adalah organisasi besar yang diisi oleh banyak kepala dan pemikiran, maka diperlukan gaya komunikasi yang lebih mendalam, tidak sekadar mengandalkan lisan.

“Serumit apapun hubungan dengan orang, ketika yang bicara adalah hati, yang bicara adalah rasa, itu akan nyambung. Apalagi kalau tidak ada urusan, tidak ada persoalan pribadi,” tutur Prof Haedar.

Ia juga mengingatkan agar segala kebaikan yang telah dilakukan selama mengemban amanah tidak perlu diumbar atau dipamerkan demi memuaskan nafsu kesombongan. Haedar meyakini bahwa setiap kontribusi positif pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya sendiri tanpa perlu pengakuan yang dipaksakan.

“Maka tidak usah kita mengumum-umumkan, Tuhan mencatat, semesta mendaftar, dan akhirnya orang tahu juga. Tapi tahu secara alami,” tambahnya.

Sebaliknya, Prof Haedar memberikan peringatan keras berdasarkan penggalan Al-Qur'an Surat Al-Isra ayat 7. Jika seorang pemimpin bersikap ingkar dan melakukan keburukan, maka dampak buruk tersebut dipastikan akan kembali menimpa dirinya sendiri.

Ayat ini, menurut Prof Haedar, harus menjadi landasan teologis bagi seluruh warga Muhammadiyah dalam menyampaikan kebenaran secara moderat atau tengahan. Ia menekankan agar penyampaian kebenaran tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang buruk. Sebagai penutup, ia mengajak warga Muhammadiyah untuk terus menjaga kesucian dan ketakwaan diri, namun dengan catatan penting untuk tidak pernah merasa diri paling suci.