Sinergi Budaya Mutu dan Karakter: UMC Bidik Target 3.500 Mahasiswa Baru
UMCPRESS.ID - Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., menegaskan kembali komitmen universitas dalam meningkatkan mutu akademik dan tata kelola kampus. Ia juga mengingatkan seluruh civitas akademika mengenai pentingnya menjaga integritas dan menumbuhkan etos kerja yang tinggi demi membawa UMC bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Prof. Gunawan menekankan bahwa dosen dan tenaga kependidikan (tendik) bukan sekadar menjalankan fungsi administratif atau pengajaran rutin. Lebih dari itu, mereka adalah motor penggerak utama universitas. Menurutnya, seluruh elemen pendidik dan tenaga kependidikan harus mampu memosisikan diri sebagai agen perubahan (agent of change) yang secara nyata merefleksikan budaya mutu dalam setiap pelaksanaan tugas sehari-hari.
“Budaya mutu bukan sekadar slogan, melainkan tercermin dari integritas dan etos kerja kita setiap hari,” ujarnya di pengajian dosen dan tendik, jum'at 29 mei 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Gunawan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kinerja jajaran rektorat di bawah kepemimpinan Rektor UMC, Arif Nurudin, M.T. Ia menilai, di bawah nakhoda era Rektor Arif Nurudin, UMC terus menunjukkan tren perkembangan yang positif, baik dari sisi penguatan tata kelola kelembagaan maupun peningkatan kualitas iklim akademik di lingkungan kampus.
Sinergi yang solid antara pihak rektorat dan seluruh unit kerja dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Prof. Gunawan berharap pencapaian yang telah diraih saat ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui inovasi-inovasi baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Internalisasi Paradigma '7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif'
Untuk mewujudkan transformasi kultural tersebut, UMC mengadopsi konsep The 7 Habits of Highly Effective Peoplekarya Stephen Covey sebagai kompas moral. Melalui paparan matriks pengembangan karakter kampus, konsep ini digambarkan sebagai ekosistem pertumbuhan yang bergerak linier dari level Ketergantungan (Dependence), Kemandirian (Independence), hingga bermuara pada Kesalingtergantungan (Interdependence).
Fase awal dimulai dari transisi menuju kemandirian untuk meraih Kemenangan Pribadi (Private Victory), yang ditopang oleh tiga kebiasaan utama:
-
Kebiasaan 1 (Menjadi Proaktif): Mengambil inisiatif dan tanggung jawab penuh, bukan bersikap reaktif.
-
Kebiasaan 2 (Mulai dengan Tujuan Akhir): Memastikan visi kerja berbasis pada target jangka panjang yang jelas.
-
Kebiasaan 3 (Mendahulukan Yang Utama): Memprioritaskan program kerja strategis demi efisiensi institusi.
Setelah kemandirian individu tercapai, langkah berikutnya adalah melangkah ke tingkat kesalingtergantungan untuk meraih Kemenangan Publik (Public Victory). Fase kolaboratif ini dibangun melalui Kebiasaan 4 (Berpikir Menang-Menang), Kebiasaan 5 (Berusaha Memahami Lebih Dahulu, Baru Dipahami), dan Kebiasaan 6 (Mewujudkan Sinergi) untuk melahirkan inovasi kelompok yang lebih besar.
Sebagai pelindung seluruh sistem, terdapat Kebiasaan 7 (Mengasah Gergaji) yang melingkari matriks tersebut, melambangkan pembaruan diri secara terus-menerus (continuous improvement) baik dari aspek fisik, mental, spiritual, maupun sosial-emosional.
Menatap agenda strategis ke depan, Prof. Gunawan tak henti-hentinya mengingatkan seluruh jajaran terkait mengenai target besar yang harus dicapai universitas. UMC secara konsisten membidik target perolehan sebanyak 3.500 mahasiswa baru (maba) pada tahun akademik ini.
Untuk mewujudkan target tersebut, ia meminta seluruh lini, mulai dari tim promosi, fakultas, hingga program studi, untuk bergerak aktif dan kreatif dalam menjaring minat calon mahasiswa. Melalui penguatan budaya mutu internal dan peningkatan layanan pendidikan, UMC optimis daya tawar kampus akan semakin kuat di mata masyarakat luas.
Upaya pencapaian target ini juga diselaraskan dengan internalisasi nilai-nilai karakter—sebagaimana tercermin dalam konsep 7 kebiasaan efektif di atas—guna mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh.