Serukan Jihad Ekologis! UMC Jadi Kampus Vertikal Berkelanjutan
UMCPRESS.ID - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat menggelar I’tikaf Ramadhan 1447 H dengan tajuk “Islam dan Kesadaran Ekologis dalam Perspektif Muhammadiyah Jawa Barat” pada Sabtu–Ahad, 7–8 Maret 2026 di STIKes Muhammadiyah Ciamis.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus forum intelektual yang diikuti oleh Universitas Muhammadiyah Cirebon, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Muhammaidyah Sukabumi UMMI dan STIKES Muhammadiyah Ciamis yang membahas tanggung jawab umat Islam dalam menjaga kelestarian alam di tengah meningkatnya krisis ekologis global.

Dalam forum tersebut, Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menegaskan pentingnya penguatan kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Pandangan ini disampaikan oleh Rektor UMC, Arif Nurudin MT dengan tajuk Islam, Muhammadiyah, dan Kesadaran Ekologis di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah .
Arif menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius. Fenomena perubahan iklim, deforestasi, pencemaran air dan udara, lonjakan sampah plastik, hingga ancaman krisis air bersih menjadi persoalan global yang berdampak langsung pada ekosistem dan keberlanjutan kehidupan manusia.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai masalah teknis atau ilmiah. Kerusakan lingkungan pada hakikatnya mencerminkan krisis etika dalam hubungan manusia dengan alam.
"Perkembangan teknologi yang tidak disertai kebijaksanaan dan tanggung jawab moral justru mempercepat eksploitasi sumber daya alam," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan ekologis pada akhirnya berkaitan erat dengan arah peradaban manusia. Ketika kemajuan ilmu pengetahuan tidak diimbangi dengan nilai-nilai moral, maka keseimbangan alam akan semakin rentan terganggu.
Dalam perspektif Islam, alam semesta dipandang sebagai ciptaan Allah yang harus dipelihara. Manusia diberi amanah sebagai khalifah fil ardh, yakni wakil Allah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan serta keberlangsungan kehidupan.
Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual. Islam mengajarkan prinsip keseimbangan, kesederhanaan dalam pemanfaatan sumber daya, serta larangan melakukan kerusakan di muka bumi.
Nilai-nilai tersebut selaras dengan gagasan Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah. Dalam kerangka ini, dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dimaknai sebagai gerakan sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai komitmen kemanusiaan untuk merawat bumi.

Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda. Melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, kampus dapat menjadi pusat lahirnya gagasan serta gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
Selain itu, institusi pendidikan tinggi juga diharapkan mampu menghadirkan praktik ekologis secara nyata. Pengelolaan sampah yang lebih sistematis, penghematan energi, pengurangan penggunaan plastik, serta edukasi lingkungan bagi sivitas akademika menjadi langkah penting menuju kampus berkelanjutan.
Sebagai bagian dari strategi pengembangan institusi, Universitas Muhammadiyah Cirebon juga merencanakan pembangunan gedung kampus terpadu setinggi sekitar 20 lantai. Proyek ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan sekaligus mendukung penyediaan infrastruktur akademik yang modern.
Mengakhiri paparannya, Arif berharap UMC menjadi salah satu PTMA di Jabar yang dapat berkontribusi dalam memperkuat gerakan kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
"Upaya ini diharapkan melahirkan generasi intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kelestarian bumi," pungkasnya.