Di Hadapan Sivitas UMC, Kepala BRIN Beberkan Arah Strategi Riset Nasional

Di Hadapan Sivitas UMC, Kepala BRIN Beberkan Arah Strategi Riset Nasional

UMCPRESS.ID - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN RI), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mendorong agar paradigma riset di Indonesia tidak lagi sekadar berorientasi pada pemenuhan dokumen administratif. Sebaliknya, riset nasional harus mampu memberikan dampak nyata (impactful research) bagi masyarakat dan kemajuan daerah.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional bertajuk "Arah Kebijakan Riset Nasional dalam mendukung pembangunan daerah yang berdampak" yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Cirebon pada Ahad (5/7/2026). Selain itu, Prof Arif juga mengapresiasi kehadrian seluruh civitas akademika UMC, termasuk  Rektor UMC, Arif Nurudin MT dan seluruh pejabat terkait.

Dalam acara tersebut, mantan Rektor IPB University ini menekankan bahwa inovasi merupakan kunci utama bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai disrupsi global serta keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

"Riset tidak boleh hanya berhenti di atas kertas atau menjadi dokumen yang tersimpan di lemari. Hasil inovasi para periset harus bisa dihilirisasi dan diimplementasikan agar memiliki dampak langsung, baik dalam penyusunan kebijakan daerah yang berkelanjutan maupun dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat," ujar Prof. Arif Satria.

Ia memaparkan bahwa berdasarkan data demografi, Indonesia akan menghadapi momentum krusial pada periode 2028–2031, di mana rasio ketergantungan (dependency ratio) diproyeksikan mencapai titik terendah sebesar 46,9 persen. Periode ini menjadi puncak sekaligus peluang emas bonus demografi bagi Indonesia untuk memacu produktivitas nasional.

Menurut Prof Arif, keberhasilan negara-negara maju seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat dalam memanfaatkan bonus demografi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berbasis pada penguasaan teknologi, riset, serta kepemilikan hak paten. Berdasarkan data Organisasi Hak Atas Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) tahun 2024 yang ditunjukkannya, jumlah aplikasi paten Indonesia saat ini masih berada di peringkat ke-34 global. Angka ini masih tertinggal jauh di bawah China yang memimpin di peringkat pertama.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut dan mempercepat hilirisasi hasil riset ke daerah-daerah, BRIN kini telah memperkenalkan terobosan baru berupa aplikasi BRIN Innovations Apps. Portal digital yang dapat diunduh melalui Google Play ini diproyeksikan menjadi etalase inovasi nasional sekaligus wadah transparansi. Melalui aplikasi ini, proses komunikasi, kolaborasi, dan adopsi teknologi antara peneliti BRIN, pemerintah daerah, pelaku industri, serta masyarakat dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Di akhir pemaparannya, Prof. Arif Satria juga mengajak institusi pendidikan dan pemerintah daerah untuk menyelaraskan visi dengan konsep Industri 5.0. Berbeda dengan era sebelumnya, visi Industri 5.0 berfokus pada tiga pilar utama, yaitu berpusat pada manusia (human-centric), tangguh (resilient), dan berkelanjutan (sustainable). Sinergi multi-pihak ini diharapkan dapat memastikan bahwa setiap riset yang didanai dan dihasilkan di Indonesia benar-benar menjadi solusi konkret yang membangun daerah secara berkelanjutan.