Hadiri INACOLET 2026, Akademisi Leeds University UK: AI Bukan Pengganti Guru, Melainkan Mitra Pembelajaran
UMCPRESS.ID - Kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) diprediksi akan mengubah secara fundamental cara belajar dan mengajar bahasa di masa depan. Namun, transformasi tersebut harus diiringi dengan penguatan literasi kritis agar teknologi tidak menggantikan peran manusia, melainkan menjadi mitra cerdas dalam proses pembelajaran.
Hal itu disampaikan Associate Professor in Language Education, University of Leeds, Inggris, Huahui Zhao, dalam pemaparannya di INACOLET 2026 yang diprakarsai oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMC, Jum'at 17 Juli 2026.
Huahui Zhao mengangkat tema From Chalkboards to Chatbots: Reimagining Language Education in a GenAI-Enabled Era. Menurutnya, perkembangan teknologi AI telah membuka peluang besar bagi dunia pendidikan bahasa, sekaligus menghadirkan tantangan baru yang memerlukan respons akademik secara serius.
Zhao menjelaskan bahwa pemanfaatan AI tidak lagi terbatas sebagai alat bantu, tetapi telah berkembang menjadi mitra belajar yang mampu memberikan umpan balik secara langsung, membantu penyusunan materi ajar, hingga mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Karena itu, institusi pendidikan perlu melakukan reimajinasi terhadap pendekatan pembelajaran bahasa agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam bidang pengajaran bahasa Inggris, AI dinilai memberikan manfaat nyata pada berbagai keterampilan berbahasa. Teknologi tersebut mampu membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan berbicara melalui simulasi percakapan, memperbaiki pelafalan, memperkaya kosakata, meningkatkan kualitas tata bahasa, hingga mendukung pemahaman membaca melalui berbagai aplikasi berbasis AI. Selain itu, AI juga dapat dimanfaatkan untuk asesmen diagnostik, penyusunan strategi belajar mandiri, serta personalisasi proses pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.
Tidak hanya itu, AI juga mampu menghasilkan soal ujian yang disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa, menyederhanakan konsep-konsep kompleks, menerjemahkan materi pembelajaran, serta membantu dosen merancang maupun mengevaluasi perangkat pembelajaran secara lebih efisien. Dengan kemampuan tersebut, AI dinilai mampu meningkatkan efektivitas proses belajar sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih adaptif.
Meski demikian, Zhao mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan. Salah satunya adalah kecenderungan mahasiswa menerima jawaban AI tanpa melakukan evaluasi kritis. Kondisi tersebut dapat mengurangi motivasi belajar, melemahkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi dalam menyelesaikan tugas akademik.
Ia juga menyoroti fenomena hallucination, yakni kondisi ketika model bahasa menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi belum tentu benar. Menurutnya, AI bekerja berdasarkan pola statistik dari data pelatihan, bukan melalui pemahaman makna sebagaimana manusia. Karena itu, setiap informasi yang dihasilkan AI tetap memerlukan proses verifikasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam proses pembelajaran.
Selain aspek teknis, Zhao menilai isu etika menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan GenAI di lingkungan akademik. Semakin sulitnya membedakan karya yang sepenuhnya ditulis manusia dengan karya yang dibantu AI memunculkan persoalan mengenai orisinalitas, kepengarangan, serta integritas akademik. Oleh sebab itu, perguruan tinggi perlu menyusun kebijakan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam proses pembelajaran dan penilaian.
Berdasarkan sejumlah riset yang dilakukan di University of Leeds, mahasiswa ternyata memanfaatkan GenAI tidak hanya untuk memperbaiki bahasa, tetapi juga memperoleh referensi, mengembangkan ide tulisan, memahami konsep akademik, hingga meminta penjelasan mengenai proses berpikir kritis. Dalam interaksi tersebut, mahasiswa dapat berperan sebagai pembelajar, instruktur, analis, bahkan evaluator terhadap respons yang diberikan AI.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan penggunaan kosakata akademik dalam tulisan mahasiswa. Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal apabila mahasiswa mampu melakukan seleksi, evaluasi, dan revisi terhadap respons AI, bukan sekadar menyalin hasil yang diberikan sistem.
Menutup paparannya, Zhao menegaskan bahwa masa depan pendidikan bahasa bukanlah memilih antara manusia atau AI, melainkan membangun kolaborasi yang saling melengkapi. Pengembangan critical GenAI literacy harus menjadi bagian integral dalam pendidikan guru maupun peserta didik agar AI dimanfaatkan sebagai mitra intelektual yang memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta literasi akademik. Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital di dunia pendidikan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, etika, dan tanggung jawab akademik yang kuat.