Perkuat Karakter Profetik, Warek 3 UMC Tegaskan AIK sebagai Ruh dan Pembeda Utama Kampus

Perkuat Karakter Profetik, Warek 3 UMC Tegaskan AIK sebagai Ruh dan Pembeda Utama Kampus

UMCPRESS.ID - Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) bukan sekadar mata kuliah formal, tetapi menjadi ruh, identitas, sekaligus pembeda utama perguruan tinggi Muhammadiyah.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., saat memberikan materi pada Pengkaderan Fungsional Dosen AIK bertema “Dosen AIK Berkemajuan: Menguatkan Ideologi, Menggerakkan Pendidikan, dan Mencerahkan Peradaban”, Sabtu–Ahad, 29–30 Agustus 2026.

Mas BNI, Sapaan akrab Dr. Bagus mengatakan bahwa keberadaan AIK merupakan manifestasi konkret gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid Muhammadiyah di bidang pendidikan.

“Kehadiran AIK menjadi manifestasi konkret dari gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar serta tajdid di bidang pendidikan,” katanya.

Dalam materi bertajuk “Pengarusutamaan Al-Islam Kemuhammadiyahan: Membangun Kampus Islami yang Unggul, Berkemajuan, dan Berbasis Profetik”, ia menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Menurutnya, integrasi tersebut diperlukan untuk membentengi civitas akademika dari berbagai tantangan, termasuk krisis moral, sekularisme, dan radikalisme.

“Muhammadiyah bukanlah sekadar organisasi, ia adalah gerakan moral dan intelektual untuk menampilkan wajah Islam yang riil, konkret, dan mencerahkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, UMC menerapkan kurikulum AIK secara berjenjang di seluruh program studi. AIK I membahas Kemanusiaan dan Keimanan, AIK II mencakup Ibadah, Akhlak, dan Muamalah berbasis Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, AIK III tentang Kemuhammadiyahan, serta AIK IV mengenai Islam dan Ilmu Pengetahuan.

Kurikulum tersebut diperkuat melalui kaderisasi formal Baitul Arqam (BA) dan Darul Arqam (DA) bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Penguatan AIK juga didukung Lembaga Kajian dan Pengembangan AIK (LPP-AIK) yang berperan menjaga mutu dan keselarasan materi ajar. Dosen dari berbagai program studi umum, seperti Teknik, Ekonomi, dan Hukum, juga diwajibkan mengikuti sertifikasi Islam-based lecturing.

“Kekuatan kurikulum ini bertumpu pada sumber daya insani yang kita miliki. Tugas dosen di UMC bukan hanya mentransfer pengetahuan, melainkan membimbing karakter spiritual mahasiswa serta menjadi uswah hasanah di dalam maupun di luar kelas,” ujarnya.

Penerapan nilai-nilai AIK juga diwujudkan dalam kultur kehidupan kampus. UMC menghentikan sementara aktivitas perkuliahan dan administrasi ketika azan berkumandang untuk memberikan kesempatan melaksanakan salat berjamaah.

Selain itu, UMC menerapkan Islamic Code of Conduct yang mengatur etika pergaulan dan tata busana, serta mengoptimalkan masjid kampus sebagai pusat kegiatan spiritual dan intelektual.

"Melalui integrasi kurikulum, kompetensi dosen, kaderisasi, dan budaya kampus tersebut, UMC berupaya membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual," pungkasnya.