UMC Gelar Pengkaderan Fungsional Dosen AIK, Perkuat Ideologi dan Gerakan Pendidikan Berkemajuan

UMC Gelar Pengkaderan Fungsional Dosen AIK, Perkuat Ideologi dan Gerakan Pendidikan Berkemajuan

UMCPRESS.ID - Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) selama dua hari, 29–30 Agustus 2026, di Meeting Room Kampus 3 UMC. Kegiatan tersebut mengusung semangat“Dosen AIK Berkemajuan: Menguatkan Ideologi, Menggerakkan Pendidikan, Mencerahkan Peradaban.”

Pengkaderan diikuti 35 dosen dari berbagai fakultas di lingkungan UMC. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi Muhammadiyah memperkuat kapasitas dosen AIK sekaligus memastikan nilai-nilai Islam dan ideologi Muhammadiyah semakin terintegrasi dalam proses pendidikan.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMC, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., membuka kegiatan sekaligus menjadi salah satu pemateri. Dalam paparannya, Gunawan menekankan pentingnya pemahaman terhadap Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah sebagai landasan ideologis bagi dosen AIK.

Menurut dia, pemahaman ideologi Muhammadiyah menjadi penting bagi dosen karena mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan cara berpikir mahasiswa.

MKCH Muhammadiyah yang disahkan dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah 1969 di Ponorogo, kata Gunawan, merupakan salah satu rumusan penting yang menjadi pedoman dalam memahami keyakinan, kehidupan keagamaan, serta arah perjuangan Muhammadiyah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ia menjelaskan, kelahiran MKCH tidak terlepas dari dinamika politik dan sosial Indonesia pada era 1960-an. Kondisi politik saat itu, termasuk pembubaran Masyumi pada 1960 dan berkembangnya konsep NASAKOM, turut menjadi latar yang mendorong Muhammadiyah memperkuat pedoman ideologis organisasi.

“Di tengah gejolak politik dan perubahan sosial yang demikian, Muhammadiyah membutuhkan pedoman ideologis yang jelas agar tidak terombang-ambing,” ujar Gunawan.

Ia juga menjelaskan lima pokok utama MKCH. Muhammadiyah merupakan gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi mungkar yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Islam dipahami sebagai agama Allah bagi seluruh umat manusia sepanjang masa, sementara pengamalannya dilakukan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran.

Selain itu, perjuangan Muhammadiyah mencakup pemurnian akidah, pembentukan akhlak mulia, pelaksanaan ibadah sesuai tuntunan, serta pengembangan muamalah duniawiyah. Seluruh perjuangan tersebut diarahkan pada terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan diridai Allah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pengkaderan tersebut, peserta juga mendapatkan penguatan perspektif mengenai posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Gunawan menekankan bahwa gerakan Muhammadiyah tidak berhenti pada aspek purifikasi, tetapi juga harus mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial.

Pendekatan tersebut tercermin dalam tiga pilar keilmuan, yakni bayani, yang bertumpu pada Al-Qur’an dan Hadis; burhani, yang mengedepankan rasionalitas dan argumentasi ilmiah; serta irfani, yang memberi ruang pada dimensi spiritual dan nurani.

Selain Gunawan, kegiatan pengkaderan menghadirkan sejumlah pemateri, yakni Arif Nuruddin, M.T., Prof. Dr. Ahmad Dahlan, M.Ag., Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., serta Novan Hardiyanto, S.Pd.I., M.M.

Kehadiran para pemateri tersebut diharapkan memperkaya wawasan peserta mengenai ideologi, pendidikan, dan pengembangan peradaban dalam perspektif Muhammadiyah.

Melalui kegiatan ini, UMC mendorong dosen AIK menjadi kader intelektual yang mampu mengintegrasikan nilai keislaman, keilmuan, dan profesionalisme dalam pembelajaran. Pengkaderan juga diharapkan memperkuat peran dosen AIK sebagai penggerak pendidikan karakter dan bagian penting dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.