Dari Boss Menjadi Leader, UMC Dorong Transformasi Budaya Organisasi
UMCPRESS.ID - Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali menggelar pengajian rutin bulanan yang dilaksanakan setiap tanggal 29. Memasuki edisi Sabtu (29/8/2026), kegiatan tersebut mengangkat tema “Budaya Organisasi dan Perubahan”dengan menghadirkan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMC, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng sebagai pemateri.
Lebih lanjut, Prof. Gunawan menekankan pentingnya membangun pola pikir (setting the mindset) yang sama di kalangan pimpinan dan pegawai di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Menurutnya, setiap insan yang berkarya di UMC perlu memahami alasan mendasar mengapa dirinya bekerja dan memberikan kontribusi bagi kemajuan perguruan tinggi.
“Saya berkarya untuk UMC karena saya bukanlah penguasa UMC. Dalam hal ini, tidak ada pembeda antara pimpinan dan anak buah. Semua berkarya untuk PTM dalam batas wewenang dan kapasitas masing-masing,” tegasnya di hadapan sivitas akademika UMC.
Ia menjelaskan, pola pikir tersebut penting untuk membangun budaya organisasi yang menempatkan seluruh unsur perguruan tinggi sebagai bagian dari satu tim. Karena itu, seorang pimpinan tidak semestinya hanya berperan sebagai bossyang memberikan instruksi, tetapi harus mampu tampil sebagai leader yang merangkul, membimbing, dan membangun semangat kolaborasi.
Menurut Prof. Gunawan, kepemimpinan yang efektif juga harus mendorong tumbuhnya growth mindset, sehingga setiap individu memiliki keberanian untuk belajar, beradaptasi, dan bekerja bersama dengan semangat “Let’s Go!”.
Dalam upaya mewujudkan Good University Governance (GUG), ia memaparkan lima pilar kepemimpinan Islami yang perlu menjadi pedoman UMC, yakni transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan keadilan. Kelima prinsip tersebut dinilai penting untuk membangun tata kelola perguruan tinggi yang sehat, profesional, dan mampu merespons perubahan zaman.
Prof. Gunawan juga mengingatkan bahwa perubahan merupakan keniscayaan dalam kehidupan organisasi. Sikap enggan berubah dan mempertahankan status quo justru dapat menghambat perkembangan bahkan mengancam keberlangsungan lembaga.
Perubahan, kata dia, dapat berlangsung pada berbagai tingkatan, mulai dari program, administratif, struktural, hingga perubahan yang lebih mendasar menyangkut budaya dan aspek emosional organisasi.
Untuk menghadapi dinamika tersebut, peserta pengajian didorong menerapkan konsep self-leadership melalui empat strategi, yakni Vision, Learning, Visualization, dan Action. Selain itu, diperkenalkan pula pendekatan pembelajaran A-STAR yang meliputi Attend, Study, Take note/teach, Apply, dan Review.
Melalui pengajian rutin tersebut, UMC diharapkan terus memperkuat budaya organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada perubahan. Upaya itu menjadi bagian dari komitmen UMC membangun tata kelola kampus yang unggul, inovatif, dan berkemajuan.