KEBUMI Year 3 Hadir di UMC, Soroti Dampak Pencemaran Udara terhadap Kesehatan

KEBUMI Year 3 Hadir di UMC, Soroti Dampak Pencemaran Udara terhadap Kesehatan

UMCPRESS.ID - Isu pencemaran lingkungan kini tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan ekologi, tetapi telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Berangkat dari kepedulian tersebut, KEBUMI (Kesehatan Bumi) bersama Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Health Care Without Harm (HCWH), RISE Foundation, Indonesia Health Promoting Hospital Network (IHPH), dan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar KEBUMI Year 3: Action with Impact bertema "Echoes of the Earth, Voices for Change" di Convention Hall UMC, Sabtu-Minggu (25–26/7/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan secara luring dan daring melalui Zoom tersebut menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan akademisi, tenaga kesehatan, peneliti, organisasi profesi, mahasiswa, serta para pemangku kebijakan untuk membahas keterkaitan antara kualitas lingkungan, kesehatan manusia, dan pembangunan berkelanjutan.

Wakil Rektor 1 UMC, Dr. Badawi pun mengapresiasi penyelenggaraan KEBUMI Year 3 yang dinilai mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan kesehatan lingkungan.

"Melalui tema 'Echoes of the Earth, Voices for Change', kami berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi ilmiah semata, tetapi mampu melahirkan aksi nyata, memperkuat jejaring kolaborasi, serta mendorong lahirnya kebijakan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan," ujar Dr. Badawi.

Forum tersebut menegaskan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan bumi. Polusi udara, limbah medis, serta aktivitas industri dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya berbagai penyakit, mulai dari gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga kanker

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah Research Exposé KEBUMI Year 3 yang memaparkan hasil penelitian mengenai monitoring kualitas udara dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri nikel di Weda (Halmahera Tengah, Maluku Utara), Bahodopi (Morowali, Sulawesi Tengah), dan Morosi (Konawe, Sulawesi Tenggara).

Penelitian yang dipresentasikan oleh Ricka Ayu Virga Ningrum, MKM, Primasti NP., MKM, dan Varian Triantomo, MKM tersebut bertujuan mengkaji hubungan antara aktivitas industri, kualitas udara, perubahan lingkungan, serta kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal maupun bekerja di sekitar kawasan industri.

Riset menggunakan pendekatan multidisiplin melalui metode mixed methods, meliputi pemantauan kualitas udara secara real-time menggunakan sensor PM₂.₅ dan PM₁₀, analisis laboratorium terhadap NO₂, SO₂, dan O₃, survei kesehatan masyarakat, analisis citra satelit Landsat, serta kajian kebijakan di bidang pertambangan, kesehatan, dan lingkungan.

Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi rata-rata harian PM₂.₅ dan PM₁₀ di sejumlah lokasi penelitian masih berada di atas pedoman kualitas udara harian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemantauan dilakukan selama 197 hari di Weda, 85 hari di Morowali, dan 52 hari di Konawe.

Selain itu, hasil analisis laboratorium menemukan konsentrasi NO₂ di beberapa lokasi telah melampaui pedoman WHO, meskipun masih berada di bawah baku mutu nasional Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan sistem pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, khususnya di kawasan industri dengan aktivitas pembakaran berskala besar.

Penelitian juga menemukan adanya hubungan yang bermakna antara paparan debu, asap diesel, dan kondisi lingkungan kerja dengan meningkatnya gangguan kesehatan pernapasan pada responden. Faktor perilaku merokok turut menjadi determinan penting terhadap meningkatnya keluhan pernapasan maupun riwayat penyakit.

Selain faktor lingkungan, stres kerja, gangguan tidur, durasi kerja yang panjang, serta tekanan psikososial juga berkontribusi terhadap meningkatnya kelelahan kerja dan risiko gangguan kesehatan pekerja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan pekerja memerlukan pendekatan yang mencakup aspek lingkungan, keselamatan kerja, serta kondisi psikososial.

Tim peneliti juga melakukan analisis perubahan tutupan lahan menggunakan citra satelit Landsat periode 2013–2025. Hasilnya menunjukkan adanya perubahan vegetasi dan peningkatan area terbuka di sekitar kawasan industri nikel yang berpotensi memengaruhi daya dukung lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dalam keynote lecture, Founder Indonesia Health Promoting Hospital Network (IHPH) sekaligus Founder KEBUMI, dr. Suherman, MKM, menegaskan bahwa rumah sakit harus menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi krisis lingkungan. Menurutnya, transformasi menuju Green Hospital merupakan langkah penting agar pelayanan kesehatan tidak justru menambah beban pencemaran melalui emisi karbon, limbah medis, dan konsumsi energi yang tinggi.

Sementara itu, dr. Rachel Amelia, Sp.PK menjelaskan bahwa paparan PM₂.₅ merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit karena partikel berukuran sangat kecil tersebut mampu mencapai alveolus paru bahkan masuk ke dalam sirkulasi darah. Berbagai penelitian menunjukkan keterkaitannya dengan penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, hingga kanker paru.

Forum ini juga menghadirkan sejumlah pakar nasional, di antaranya Prof. Dr. Apt. Ilma Nugrahani, M.Si., Dr. Apt. Fitri Alfiani, M.KM., dr. Ade Fadil Fajargumelar, M.M.R., Hikmat Soeriatanuwijaya, dan Roni Razali, SKM., ME, yang membahas isu farmasi hijau, pembangunan kesehatan berketahanan iklim, kesehatan lingkungan, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Melalui penyelenggaraan KEBUMI Year 3, para peserta mendorong penguatan sistem monitoring kualitas udara, integrasi surveilans kesehatan masyarakat dengan pemantauan lingkungan, peningkatan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti ilmiah guna mewujudkan sistem kesehatan yang ramah lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.