Cirebon Menggebrak Jakarta! Mahasiswa IKOR UMC Borong 4 Medali di Arena Nasional

Cirebon Menggebrak Jakarta! Mahasiswa IKOR UMC Borong 4 Medali di Arena Nasional

UMCPRESS.ID - Lintasan renang dan arena atletik di Jakarta menjadi saksi perjuangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menguji kemampuan di tengah ketatnya persaingan olahraga mahasiswa tingkat nasional. Dari arena itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan (IKOR) UMC pulang membawa kabar membanggakan dengan torehan empat medali.

Prestasi tersebut diraih dalam Invitasi Cabang Olahraga Beladiri dan Terukur Mahasiswa Tahun 2026 yang diprakarsai Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta. Kompetisi berlangsung pada 8–10 September 2026 di sejumlah venue olahraga di Jakarta, meliputi GOR Pulo Gadung, Gelanggang Jakarta Pusat, GOR Matraman, GOR Ciracas, Kolam Renang Bulungan, dan Stadion Atletik Rawamangun.

Dua mahasiswa IKOR UMC tampil pada kelompok cabang olahraga terukur. Marshal Dhiya Hadarsyifa, mahasiswa IKOR angkatan 2025, berhasil mengamankan medali perak nomor renang 400 meter gaya bebas dan medali perunggu nomor 200 meter gaya ganti.

Sementara itu, Muhammad Rafi Arsalan, mahasiswa IKOR angkatan 2026, menyumbangkan dua medali perak melalui nomor sprint 100 meter dan sprint 200 meter.

Empat medali tersebut bukan sekadar angka dalam daftar perolehan penghargaan. Prestasi itu menjadi penanda bahwa mahasiswa UMC mampu berdiri sejajar dengan atlet mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk perguruan tinggi negeri yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuat dalam pembinaan olahraga.

Dosen Prodi IKOR UMC, Harun, M.Or., mengatakan kompetisi tersebut menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengukur hasil latihan sekaligus menguji mental bertanding. Ajang tersebut mempertandingkan dua kelompok olahraga, yakni bela diri dan olahraga terukur.

Cabang bela diri meliputi karate, taekwondo, dan shorinji kempo. Sementara olahraga terukur mencakup atletik, renang, dan panahan.

“Luar biasa, mahasiswa kami mengukir prestasi bersama universitas-universitas yang notabene negeri. Luar biasa buat mereka. Tentu prestasi ini tidak hanya milik Prodi IKOR UMC saja, tetapi milik UMC seluruhnya. Lebih penting lagi, mengharumkan nama Kabupaten Cirebon,” ujar Harun.

Skala kompetisi tersebut juga tidak kecil. Sebanyak 1.114 peserta, terdiri atas 924 atlet mahasiswa dan 190 ofisial, ambil bagian. Mereka mewakili 104 perguruan tinggi dari 18 provinsi di Indonesia.

Dosen pendamping, Dr. Arrahman, S.Or., M.Pd., turut mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, prestasi mahasiswa IKOR UMC memperlihatkan bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi tidak berhenti pada ruang kelas.

Mahasiswa dituntut mampu mengimplementasikan pengetahuan, keterampilan, kedisiplinan, dan mental kompetitif dalam situasi nyata.

“Inilah wujud keunggulan sebenarnya,” katanya.

Dosen pendamping lainnya, Risa Hadi, M.Pd  juga memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah berjuang membawa nama kampus di tingkat nasional. Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa IKOR lainnya untuk terus berlatih dan mengejar prestasi.

Bagi IKOR UMC, medali yang dibawa pulang dari Jakarta bukanlah garis akhir. Prestasi itu justru menjadi pijakan untuk membangun budaya olahraga yang lebih kuat di lingkungan kampus, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi hingga tingkat nasional dan internasional.

Dari sisi penyelenggara, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, Andri Yansyah, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ajang uji tanding untuk meningkatkan prestasi atlet menuju jenjang yang lebih tinggi. Kompetisi juga diharapkan ikut membantu pemerintah meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Lebih dari sekadar pertandingan, menurut Andri, olahraga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

“Cabang olahraga beladiri mengajarkan kita tentang nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, penguasaan diri, serta rasa hormat kepada lawan. Sementara itu, cabang olahraga terukur menjadi tolak ukur nyata atas batas kemampuan fisik, kejujuran, konsistensi, dan presisi,” ujarnya.

Ia menegaskan, perpaduan kedua kelompok cabang olahraga tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencari pemenang. Kompetisi juga menjadi ruang untuk membangun solidaritas antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi sekaligus membentuk karakter pemuda secara lebih komprehensif.

“Melalui kompetisi ini, kita tidak hanya mencari siapa yang tercepat, terkuat, atau terhebat di atas gelanggang, melainkan membangun nilai-nilai sportivitas, daya juang pantang menyerah, serta solidaritas antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi,” tuturnya.

Andri pun mengingatkan para atlet mahasiswa agar menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Baginya, kemenangan yang diraih melalui perjuangan yang jujur memiliki nilai jauh lebih besar dibandingkan sekadar piala atau medali.

“Jadikan ajang ini sebagai sarana mengukur hasil latihan keras yang telah kalian jalani selama ini untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, baik skala nasional maupun internasional,” tandasnya.