Inacolet 2026: Menakar Reposisi Pendidikan Bahasa Inggris Transformatif demi Kampus Berdampak

Inacolet 2026: Menakar Reposisi Pendidikan Bahasa Inggris Transformatif demi Kampus Berdampak

UMCPRESS.ID - Jagat pendidikan tinggi global, khususnya di bidang pengajaran bahasa Inggris, saat ini dihadapkan pada disrupsi ganda yang masif. Fenomena kemajuan pesat kecerdasan artifisial (AI) yang memicu hiper-personalisasi, tuntutan pemenuhan Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta pergeseran peta industri global, memaksa institusi akademik merombak total paradigma lama agar tetap relevan.

Merespons dinamika krusial tersebut, Konferensi Internasional Bahasa, Pendidikan, dan Teknologi (Inacolet) Ke-2 resmi digelar di Cirebon pada 16-17 Juli 2026. Forum ilmiah internasional ini menjadi panggung strategis bagi para akademisi dalam merumuskan arah baru dunia pendidikan tinggi.

Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Ifan Iskandar, yang hadir sebagai pembicara utama, menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi tidak lagi bisa bertahan dengan model konvensional yang kaku. Di tengah dunia yang bergerak cepat dalam ritme VUCA dan BANI, perguruan tinggi dituntut keras untuk segera bermutasi menjadi Impactful University. Kampus wajib memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian SDGs, terutama pada pemenuhan sektor pendidikan berkualitas tinggi dan pengentasan ketimpangan sosial.

"Pendidikan modern tidak boleh lagi sekadar menjadi menara gading yang sibuk mentransfer pengetahuan teoretis. Kita memikul tanggung jawab besar untuk melahirkan agen perubahan yang memiliki kesadaran kritis serta kapasitas kolaboratif yang kuat guna menyelesaikan krisis ekologis maupun sosial di dunia nyata," ujar Ifan yang juga Wakil Rektor 1 UNJ.

Salah satu gagasan paling krusial yang ditawarkan dalam konferensi ini adalah implementasi konsep Inclusive-Transformative Education (ITE) atau Pendidikan Inklusif-Transformatif. Pendekatan ITE mengintegrasikan dua pilar utama. Pertama, sistem inklusif yang menjamin pemenuhan hak aksesibilitas penuh di mana semua mahasiswa, termasuk kelompok minoritas dan neurodivergen, dapat belajar bersama di kelas reguler tanpa hambatan sistemik. Kedua, pilar transformatif yang memicu evolusi kognitif internal mahasiswa untuk berani merombak kerangka berpikir usang dan bertindak sebagai pemecah masalah.

Dalam konteks pengajaran bahasa Inggris (ELEL) di era digital, Ifan memaparkan lima langkah taktis untuk mengadopsi ITE di kampus. Langkah strategis tersebut meliputi penanaman kemampuan penyelesaian masalah pada capaian pembelajaran, perancangan kurikulum adaptif berbasis design down, pemanfaatan platform microlearning digital, penerapan pembelajaran kolaboratif-reflektif yang berpusat pada mahasiswa, serta pelaksanaan evaluasi pembelajaran berkelanjutan secara holistik.

Lebih jauh lagi, Prof Ifan memberikan kritik tajam terhadap pola pengajaran tradisional yang cenderung terlalu memanjakan mahasiswa melalui bantuan berlebih (over-scaffolding). Menurutnya, proses belajar sejati justru lahir ketika mahasiswa diberikan ruang aman untuk menghadapi kesulitan (struggle), berpikir keras, dan melakukan penyesuaian secara mandiri. Strategi pengajaran pun harus diubah secara radikal dari pola lama "Mengajar-Praktik-Uji" menjadi formula baru yaitu "Tantangan-Mengajar-Praktik".

Penerapan konsep ITE ini sangat selaras dengan cetak biru World Economic Forum mengenai Education 4.0 dan transisi menuju paradigma Industri 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat teknologi (human-centric). Melalui reposisi besar ini, pengajaran bahasa Inggris di universitas tidak lagi sekadar tentang penguasaan tata bahasa kaku, melainkan telah bertransformasi sepenuhnya menjadi media tangguh untuk membentuk pola pikir kritis demi masa depan bumi yang berkelanjutan.