Dr. Sandi, Dosen FEB UMC Berikan Kuliah Umum di Prodi Manajemen Universitas Padjadjaran
UMCPRESS.ID - Di tengah dinamika pembangunan, air bersih bukan sekadar komoditas, ia adalah nadi kehidupan dan fondasi stabilitas sosial. Demikian paparan pembuka, Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Cirebon, Dr. Surnita Sandi Wiranata saat memberikan kuliah umum di Prodi Manajemen Universitas Padjajaran (UNPAD), Gedung Lead, Ruang Lambda G.04, FEB Unpad Kampus Jatinangor, Senin (13/04). Kegiatan ini dimoderatori oleh Prof. Yudi Azis, S.E.,S.S.,S.Sos.,M.T.,Ph.D

Perubahan pada satu elemen, seperti penambahan ruang lingkup kerja, akan secara linear memaksa penyesuaian pada biaya dan waktu penyelesaian agar kualitas tetap terjaga. Prinsip ini sangat krusial diterapkan pada proyek infrastruktur vital seperti Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang memiliki risiko teknis tinggi.
Realita Darurat Air Nasional
Dr. Sandi memaparkan data mengkhawatirkan mengenai kondisi sumber daya air di Indonesia. Merujuk pada laporan Asian Development Bank (ADB) tahun 2016, meskipun ketersediaan air tahunan Indonesia mencapai 690 miliar meter kubik jauh di atas kebutuhan nasional sebesar 175 miliar meter kubik kapasitas penampungan atau reservoir nasional justru terus menurun secara signifikan sejak periode 1945-2019.
Kapasitas reservoir Indonesia saat ini hanya berada di angka 52,55 meter kubik per kapita, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Kondisi ini diperparah dengan kualitas air yang merosot tajam; hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 persen air di Jakarta telah tercemar bakteri E. Coli akibat buruknya sistem sanitasi.
"Kuantitas dan kualitas air tanah yang kian merosot memaksa kita untuk beralih dan bergantung pada pengelolaan air permukaan secara lebih masif dan efisien di masa depan," tambahnya.

Menjawab tantangan teknis dalam pengolahan air permukaan yang sering mengalami fluktuasi kekeruhan tinggi (50-1000 NTU), Dr. Sandi memperkenalkan solusi dari PT Gapura Liqua Solutions berupa teknologi High Speed Filtration Media (HSFM) dan Special Blended Polymerized Coagulant (SBPC).
SBPC merupakan koagulan berbasis aluminium primer dengan kemurnian 99,7 persen yang mampu bekerja efektif pada kondisi air baku yang ekstrim tanpa perlu menghentikan proses produksi. Teknologi ini telah mengantongi sertifikat NSF (National Sanitation Foundation), menjamin keamanan untuk konsumsi domestik. Penggunaan SBPC diklaim mampu menurunkan biaya operasional karena dosis pemakaian yang rendah serta menghasilkan lumpur residu (sludge) yang jauh lebih sedikit dibandingkan koagulan konvensional.
Sementara itu, teknologi HSFM hadir untuk menggantikan sistem Sand Filter tradisional yang rentan terhadap fenomena channeling dan pertumbuhan biofilm bakteri. HSFM menawarkan kinerja yang lebih terprediksi, masa guna hingga lebih dari 20 tahun, serta efektivitas yang lebih tinggi dalam menyaring patogen berbahaya seperti Cryptosporidium dan Giardia.
Menuju Implementasi Teknologi 4.0
Sebagai penutup, Dr. Sandi menekankan pentingnya modernisasi melalui implementasi Teknologi 4.0 dalam sistem pengendalian air, seperti penggunaan Stream Current Monitor (SCM) dan Smart Digital Dosing Pump. Integrasi teknologi cerdas ini memungkinkan optimasi dosis kimia secara otomatis, menjaga kualitas keluaran (effluent) tetap konsisten, dan menekan biaya energi seminimal mungkin.
Kuliah umum ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan pemahaman nyata bahwa disiplin manajemen proyek bukan sekadar teori, melainkan instrumen vital dalam menyelesaikan krisis fundamental bangsa.
"Kunci keberlanjutan bisnis air di masa depan adalah karakterisasi air baku yang tepat, sistem yang secara tekno-ekonomi atraktif, dan operasional yang ramah lingkungan," pungkasnya.