Dari Pesantren Mahasiswa UMC, Lahir Calon Guru Beriman dan Berkarakter

Dari Pesantren Mahasiswa UMC, Lahir Calon Guru Beriman dan Berkarakter

UMCPRESS.ID - Universitas Muhammadiyah Cirebon menggelar Pesantren Mahasiswa Profesi Pendidikan Guru (PPG) dengan tema “Membentuk Pribadi Muslim yang Mencerahkan dan Menggembirakan” pada Sabtu (7/3). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat fondasi spiritual, moral, dan karakter para calon guru agar mampu menjalankan profesinya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.

Pesantren mahasiswa tersebut menghadirkan berbagai sesi pembinaan yang menekankan pentingnya integrasi antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual dalam profesi pendidikan. Dalam kegiatan itu, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Cirebon, Dr. Bagus Nurul Iman, menegaskan bahwa peran guru pada era modern jauh melampaui fungsi akademik semata.

Menurutnya, menjadi seorang guru di masa kini bukan sekadar melakukan transfer pengetahuan di ruang kelas atau memenuhi kewajiban jam mengajar. Guru, kata dia, adalah arsitek peradaban yang menentukan arah masa depan generasi bangsa.

“Menjadi seorang guru di era sekarang bukan sekadar tentang transfer ilmu atau memenuhi beban jam mengajar. Guru adalah arsitek peradaban. Di pundak para calon guru inilah masa depan generasi bangsa dititipkan,” ujar Bagus.

Ia menambahkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membentuk seorang pendidik yang utuh. Seorang guru harus memiliki pondasi spiritual yang kuat agar mampu menjadi teladan, baik dalam sikap, perilaku, maupun integritas moral.

Karena itu, kegiatan pesantren mahasiswa digelar bukan sebagai rutinitas formalitas kampus, melainkan sebagai ruang pembinaan karakter yang menanamkan nilai-nilai dasar dalam profesi pendidikan. Dalam forum tersebut, Bagus menjelaskan bahwa ada tiga esensi utama yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut.

Pertama adalah penguatan karakter keislaman. Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Cirebon berkomitmen mencetak guru yang memiliki nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.

Esensi kedua adalah integritas moral. Dalam lingkungan pesantren mahasiswa, peserta didorong untuk memahami bahwa kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan merupakan fondasi utama seorang pendidik sebelum nilai-nilai tersebut diajarkan kepada para murid.

Sementara esensi ketiga adalah penguatan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan antarcalon guru. Jejaring persaudaraan ini diharapkan mampu menjadi modal sosial bagi para pendidik dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung di masa depan.

Bagus menggambarkan peran guru sebagai pelita yang menerangi kegelapan. Namun, pelita tersebut tidak akan terus menyala tanpa adanya sumber energi yang menjaga nyalanya.

“Seorang guru itu laksana pelita dalam kegelapan. Namun pelita hanya bisa terus menyala jika minyaknya—yakni iman dan ilmu terus diisi,” tuturnya.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan pesantren mahasiswa dengan penuh semangat dan kesungguhan. Momentum tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi para calon guru untuk membangun jati diri sebagai pendidik yang profesional sekaligus memiliki kedalaman spiritual.