Dr. Wahyu Erfandy, Dosen UMC Terpilih Jadi Doping Control Officer FIFA ASEAN CUP 2026
UMCPRESS.ID - “Seperti kelapa yang kuat, kita pun bisa menghadapi badai kehidupan dengan kekuatan dan keteguhan. Kelapa memberikan berbagai manfaat, begitu juga kita harus memberikan manfaat bagi orang lain.”
Filosofi itu seolah menggambarkan perjalanan Dr. Wahyu Erfandy, S.Or., M.Pd., putra Makassar yang memilih merantau dan menempuh perjalanan panjang di dunia olahraga. Berasal dari kawasan Indonesia Timur, Wahyu membawa semangat perantau yang siap belajar, bekerja keras, dan menghadapi berbagai tantangan. Ketika putra Makassar telah melangkah keluar dari tanah kelahirannya, perjalanan bukan sekadar mencari pengalaman, tetapi juga membuktikan kemampuan di tengah persaingan yang semakin luas. Kini, perjalanan itu membawanya ke panggung internasional sebagai Doping Control Officer (DCO) FIFA ASEAN CUP 2026.
Dekan FIKES UMC, Uus Husni Mahmud, S.Kp., M.Si., mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keterlibatan Wahyu dalam FIFA ASEAN CUP 2026 menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa dosen UMC mampu mengambil peran strategis dalam penyelenggaraan olahraga berstandar internasional. Pengalaman Wahyu juga dinilai dapat memperkaya proses pembelajaran mahasiswa, terutama dalam bidang sport science, profesionalisme, integritas, dan pengawasan anti-doping.
Wahyu terpilih sebagai DCO pada FIFA ASEAN CUP 2026 yang berlangsung di Indonesia dan Hongkong pada 25 September hingga 5 Oktober 2026. Dalam tugas tersebut, ia mengambil bagian dalam proses pengawasan doping untuk mendukung kompetisi yang adil, sehat, serta sesuai regulasi olahraga internasional.
Rekam jejak akademiknya menjadi salah satu fondasi perjalanan profesional tersebut. Wahyu menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Makassar pada 2016. Ia kemudian merantau ke Jakarta dan menempuh Magister Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta, lulus pada 2018. Pendidikan doktoral pada bidang Pendidikan Olahraga juga diselesaikannya di Universitas Negeri Jakarta pada 2025.
Sejak 2018 hingga sekarang, Wahyu aktif sebagai dosen dan peneliti di Departemen Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Cirebon. Di luar lingkungan akademik, ia pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Indonesia Anti Doping Organization atau IADO pada 2020–2022. Pada 2021, ia dipercaya menjadi Wakil Direktur Bidang Pendidikan dan Pelatihan Tim Doping Control PON XX Papua, serta Direktur Pendidikan dan Pelatihan pada Indonesian National Paralympic Week XVI Papua.
Pengalaman Wahyu di berbagai ajang olahraga besar juga terbilang panjang. Ia sebelumnya telah bertugas dan terlibat dalam Asian Para Games Indonesia 2018, FIBA Asia Cup, BWF East Ventures Indonesia Open, BWF Daihatsu Indonesia Masters, Maybank International Marathon, World Karate Federation Series A, World Junior Wushu Championship, World Cup IFSC, ASEAN Para Games Solo, SEA Games Cambodia 2023, FIBA World Cup 2023, hingga FIFA U-17 World Cup 2023.
Selain itu, Wahyu juga telah menjalankan tugas dalam PON XX Papua 2021, PON XXI Aceh-Sumatera Utara, serta berbagai turnamen olahraga nasional dan internasional lainnya. Pengalaman tersebut memperkuat kompetensinya dalam pengawasan anti-doping dan manajemen olahraga.
Di bidang organisasi, Wahyu memiliki rekam jejak yang luas. Ia merupakan pendiri Sopping Youth Forum, pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PP IMORI atau Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia, serta menjadi pendiri dan Ketua PB Celebes Millenial Forum. Ia juga tercatat sebagai pendiri dan Wakil Ketua Yayasan Gema Prestasi Indonesia, serta pendiri dan Ketua P3KORIN atau Pengembangan Potensi Prestasi dan Kesehatan Olahraga Indonesia.
Sejak 2017, Wahyu juga aktif sebagai mental coach di PP APMOI atau Association of Indonesian Sport Mental Coaches. Sementara sejak 2018 hingga sekarang, ia tercatat sebagai Doping Control Officer di IADO. Di luar itu, Wahyu juga dikenal sebagai Manager Event PB PORDI dan aktif dalam berbagai kegiatan olahraga nasional hingga kawasan ASEAN.
FIFA ASEAN CUP 2026 sendiri diikuti oleh 11 negara ASEAN dan tiga negara undangan, yakni Hongkong, Bangladesh, dan Pakistan. Turnamen internasional tersebut diselenggarakan di dua negara.
Di Indonesia, pertandingan digelar di Gelora Bung Karno Jakarta dan Stadion Si Jalak Harupat Bandung. Sementara di Hongkong, pertandingan berlangsung di Kai Tak Stadium dan Mong Kok Stadium.
Perjalanan Wahyu dari Makassar, Jakarta, Cirebon, hingga berbagai arena olahraga internasional menunjukkan konsistensi seorang akademisi sekaligus praktisi olahraga. Sebagai putra Indonesia Timur yang merantau, ia menghadapi setiap tantangan dengan keteguhan dan pengalaman yang terus bertambah.
Seperti filosofi kelapa yang tetap kuat menghadapi terpaan badai sekaligus memberikan banyak manfaat, perjalanan Wahyu tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi. Kiprahnya juga membawa pengalaman, pengetahuan, serta kontribusi bagi mahasiswa, institusi, dan perkembangan olahraga Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.