Jeruji Tak Mampu Memenjarakan Mimpi, Empat Warga Binaan Lapas Cirebon Raih Gelar Sarjana UMC

Jeruji besi boleh membatasi raga, tetapi tak mampu memenjarakan pikiran, ilmu, dan cita-cita. UMC percaya bahwa kemanusiaan lebih tinggi daripada kesalahan masa lalu. Sebab, kesalahan bukanlah akhir kehidupan, dan pendidikan adalah jalan menuju perubahan serta harapan baru.

Jeruji Tak Mampu Memenjarakan Mimpi, Empat Warga Binaan Lapas Cirebon Raih Gelar Sarjana UMC

UMCPRESS.ID - Keterbatasan ruang gerak tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Empat warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cirebon, Kosambi, berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi (TP), Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC).

Keempat mahasiswa tersebut mengikuti prosesi wisuda secara daring melalui Zoom dari Lapas Kelas I Cirebon yang terhubung langsung dengan pelaksanaan wisuda di Convention Hall UMC, Jalan Fatahillah, Sumber, Kabupaten Cirebon, Sabtu (17/10/2026).

Empat wisudawan tersebut adalah Mulyadi asal Jakarta, Asep Syaefulloh asal Cirebon, Ridwan asal Bogor, dan Komarudin asal Bekasi. Mereka mengikuti prosesi akademik sebagai bagian dari keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi meskipun tengah menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

Momentum tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan merupakan hak setiap manusia, termasuk mereka yang sedang menjalani proses pembinaan. Keterbatasan fisik tidak harus menghentikan kesempatan seseorang untuk belajar, mengembangkan gagasan, dan memperbaiki masa depan.

Dekan FAI UMC, Associate Prof. Aip Syarifuddin, M.Pd.I., mengapresiasi keberhasilan keempat mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan pendidikan sarjana di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.

Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan pentingnya pendidikan sebagai sarana pengembangan diri, pembentukan karakter, serta penguatan nilai kemanusiaan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk membuka kesempatan belajar tanpa mengabaikan martabat manusia.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian gelar akademik, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan sikap, memperluas wawasan, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial.

Hal senada disampaikan Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi FAI UMC, Dr. Sri Maryati, M.A., yang turut mengapresiasi semangat para wisudawan dalam menuntaskan pendidikan.

Keberhasilan tersebut dinilai sejalan dengan karakter keilmuan Tasawuf dan Psikoterapi yang menekankan penguatan spiritualitas, pengendalian diri, kesadaran personal, serta pembentukan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui pendekatan keilmuan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan pendidikan sebagai bekal untuk melakukan introspeksi, memperbaiki kualitas diri, dan membangun kehidupan yang lebih produktif setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Pelaksanaan wisuda secara daring juga memperlihatkan pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses dan partisipasi akademik, termasuk bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan untuk menghadiri prosesi secara langsung.

"Momentum ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mengedepankan nilai kemanusiaan, inklusivitas pendidikan, dan kesempatan kedua bagi setiap individu," ujar Sri.

Sebab, jeruji besi dapat membatasi kebebasan fisik, tetapi tidak boleh memenjarakan pikiran dan harapan. Kesalahan masa lalu bukan akhir perjalanan seseorang. Melalui pendidikan, setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, mengembangkan potensi, dan membangun masa depan yang lebih bermartabat.