Mematri Jiwa Kebinekaan, Mahasiswa PPG UMC Ikuti Diklat Bela Negara

Mematri Jiwa Kebinekaan, Mahasiswa PPG UMC Ikuti Diklat Bela Negara

UMCPRESS.ID - Ketika mendengar frasa “bela negara”, bayangan banyak orang kerap tertuju pada latihan fisik yang berat atau persiapan menghadapi medan perang. Anggapan ini tak sepenuhnya salah, tetapi juga belum sepenuhnya benar. Bela negara pada hakikatnya adalah manifestasi cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari, yang tercermin melalui tekad, sikap, dan perilaku berbangsa serta bernegara.

Semangat inilah yang ditanamkan dalam Pendidikan dan Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara (WKBN) bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 LPTK Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC). Bertempat di Markas Yonif 321/Galuh Taruna, Majalengka, kegiatan ini berlangsung selama dua hari penuh, Senin hingga Selasa, 12–13 Oktober 2026.

Wakil Rektor 1 UMC, Dr. Badawi, yang melepaskan kegiatan dari FKIP UMC di Kampus 2 Jl. Watubelah menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Komandan Batalyon Infanteri 321 beserta seluruh jajaran, para pelatih, dan semua pihak yang telah memberikan bimbingan, pendampingan, serta pengalaman berharga kepada mahasiswa PPG Calon Guru Tahun 2026.

"Kegiatan ini bukan sekadar rangkaian aktivitas untuk memenuhi agenda pendidikan profesi guru, melainkan ruang pembelajaran kehidupan yang mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, cinta tanah air, dan penghormatan terhadap keberagaman," ujarnya.

Suasana daerah Majalengka dinilai menjadi lokasi yang ideal untuk menempa para peserta karena mampu menjauhkan mahasiswa dari hiruk-pikuk kota besar. Hal ini memungkinkan mereka untuk memusatkan seluruh fokus dan perhatian pada refleksi diri serta penyerapan materi pelatihan.

Menjauh dari Rutinitas, Menyatu dalam Kedisiplinan

Rangkaian kegiatan dimulai pada Senin pagi dari Kampus 2 UMC, Jl. Watubelah. Sebelum diberangkatkan, para mahasiswa menyimak laporan kegiatan dari Kaprodi PPG, Dr. Ikariya Sugesti, S.S., M.Pd., serta amanat pelepasan. Dekan FKIP UMC, Dr. Hj. Fikriyah, M.A. pun memotivasi setiap peserta agar memanfaatkan kegiatan dengan penuh khidmat. Pihak universitas menekankan pentingnya pembentukan karakter bagi para calon pendidik sebelum mereka terjun ke lapangan.

Setibanya di Markas Yonif 321, para calon pendidik langsung disambut dengan upacara pembukaan, pembacaan SOP, serta latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Siang hingga malam harinya diisi dengan kegiatan hiking, muhasabah, pembekalan materi kebangsaan, hingga prosesi api unggun yang hangat dan sarat makna.

Pada hari kedua, sejak fajar menyingsing, peserta mengikuti salat Subuh berjamaah, senam pagi, apel, hingga tantangan mountaineering dan PBB lanjutan. Rangkaian acara ditutup secara khidmat melalui upacara penutupan sebelum para peserta kembali ke kampus.

Menatap Pembelaan Negara dalam Ruang Kelas

Bela negara di Indonesia secara resmi diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa "setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara." Definisi umum juga mencatat bela negara sebagai tekad, sikap, dan tindakan warga negara dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa.

Secara global, konsep ini hadir dalam beragam bentuk—mulai dari wajib militer di Korea Selatan dan Singapura, kurikulum pertahanan di Tiongkok dan Jepang, hingga misi layanan militer warga di Swiss dan Amerika Serikat.

Namun bagi calon guru, perjuangan tidak berwujud senjata. Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali tiga pesan utama: menjadi pendidik berkarakter kuat dan berintegritas, merawat kebinekaan sebagai perekat persatuan, serta memaknai bela negara dalam profesi harian. Bela negara bagi seorang guru terwujud nyata melalui pengabdian tulus, penegakan nilai Pancasila, penguatan karakter murid, serta ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa.